Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juni 2009

Puluhan Ribu Warga Jerman Gagalkan Kongres Anti-Islam

(eramuslim) Puluhan ribu warga Jerman tumpah ruah ke jalan di kota Cologne, Sabtu (20/9). Mereka memprotes pelaksanaan Kongres Anti-Islam yang digelar oleh kelompok kiri-jauh Pro-Koeln. Aksi protes itu melibatkan masyarakat Jerman dari berbagai lapisan, mulai dari aktivis gerakan anti-rasisme, tokoh-tokoh gereja, pengusaha, mahasiswa dan persatuan-persatuan perdagangan.

Ikut serta dalam aksi protes itu Walikota Cologne Fritz Schramma. Ia mengecam Pro-Koeln yang disebutnya bersembunyi dibalik gerakan masyarakat dalam menggelar kongres bernuansa rasis. "Kami disini untuk menunjukkan kartu merah terhadap rasisme," kata Schramma di tengah lautan massa.

Para pengunjuk rasa melakukan aksinya di depan gereja kathedral kota Cologne sambil mengusung berbagai pamflet yang berisi protes atas pelaksanaan kongres anti-Islam itu, diantaranya bertulisakan "Nazis out of Cologne", "Temples, synagogues, churches and mosques ... everything's okay", "No to Racism" dan "Cologne is Rebelling!".

Mereka juga meneriakan kata-kata "Kami warga Cologne-Enyahlah Nazi!" dan mencoba menghentikan kongres yang diselenggarakan selama dua hari, Jumat dan Sabtu. Akibat aksi protes itu, di hari kedua kongres, peserta yang datang kurang dari 50 orang.

Aksi protes itu didukung oleh mayoritas warga Cologne. Banyak supir taxi dan bis yang menolak mengangkut peserta kongres ke lokasi acara. Sekitar 150 bar di Cologne juga menolak menjual bir Kolsch, bir buatan lokal milik anggota Pro-Koeln. Sebuah hotel di kota itu juga membatalkan pesanan kamar tamu-tamu yang mereka anggap sebagai "orang yang tidak diinginkan."

"Ekstrimis dan orang-orang yang rasis tidak diterima di sini," tegas Walikota Cologne.

Pada saat yang sama, kelompok kiri juga menggelar aksi protes menentang rencana pembangunan masjid di kota Cologne. Namun aksi itu dihentikan oleh aparat kepolisian setelah sempat terjadi bentrok dengan kelompok penentang kelompok kiri tersebut.

Menurut aparat kepolisian, massa yang berkumpul menentang kelompok Pro-Koeln sekitar 40 ribu orang. Sementara aksi yang dilakukan kelompok Pro-Koeln hanya diikuti oleh segelintir orang saja, padahal sebelumnya mereka mengklaim aksi protes terhadap pembangunan masjid itu akan dihadiri 1.500 orang.

"Ini adalah kemenangan bagi kota Cologne dan kemenangan bagi kekuatan demokratis di kota ini," tandas walikota Schramma. (ln/iol)
More Detail...

More Detail...

Palestina Lebih Penting dari Isu Nuklir Iran

(by.Republika) Pemerintah Mesir menentang pandangan Israel yang menilai bahwa ambisi nuklir Iran harus menjadi masalah prioritas yang harus segera diselesaikan daripada proses perdamaian di Timur Tengah. Hal ini diungkapkan oleh Juru Bicara Presiden Mesir, Suleiman Awwad.

Dalam beberapa waktu terakhir ini, Israel mencoba mencari dukungan opini dari negara-negara Arab bahwa program nuklir Iran merupakan bahaya bersama bagi negara-negara di kawasan. Mesir, kata Awwad, menolak hal ini karena akan mengabaikan penyelesaian proses damai.

''Terkait upaya agar Iran dinyatakan sebagai sesuatu yang berbahaya, prioritas Presiden Mubarak (Hosni Mubarak) adalah pada isu Palestina. Ini tetap akan menjadi isu prioritas dan mengabaikan sejumlah bahaya dan ancaman di Timur Tengah,'' kata Awwad di Kairo, Ahad (31/5).

Awwad menambahkan, pemerintah Mesir akan tetap pada sikapnya untuk terus mendorong terwujudnya solusi dua negara dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel. Dengan demikian, ada negara Palestina merdeka yang hidup berdampingan secara damai dengan Israel.

Selain pemerintah Mesir, negara-negara Arab lainnya juga menolak pandangan Israel agar internasional mestinya menyelesaikan masalah nuklir Iran terlebih dahulu, karena tak hanya akan mengancam Israel tetapi juga negara-negara Arab yang ada di kawasan.

Negara-negara Arab juga khawatir, fokus pada isu Iran akan membuat komitmen Presiden AS, Barack Obama, terhadap solusi dua negara akan menyusut. Meski di sisi lain, negara-negara Arab yang Sunni juga memandang Iran dengan program nuklirnya sebagai potensi ancaman.

Selain itu, Mesir juga menolak usulan Amerika Serikat (AS) agar negara-negara Arab secara bertahap menormalisasi hubungan dengan Israel. Normalisasi ini akan memungkinkan pesawat-pesawat Israel secara bebas melintasi wilayah udara negara-negara Arab.

Usulan AS itu muncul dalam pembicaraan di Washington pekan lalu, antara Menlu Mesir, Ahmad Aboul Gheit dan Kepala Intelijen Mesir, Omar Suleiman dengan Menlu AS, Hillary Clinton dan sejumlah pejabat Deplu AS termasuk Penasihat Keamanan Nasional, James Jonas.

Dalam wawancara Gheit dengan harian Arab Saudi, Asharq Al Awsat, yang dikutip harian Haaretz, Senin (1/6), ia menyatakan pejabat AS bertanya kepadanya mengenai respons negara-negara Arab jika AS menekan Israel mencapai kesepakatan damai.

Gheit menyatakan, setelah perjanjian Oslo ditandatangani, sejumlah negara Arab mengizinkan perwakilan Israel dibuka di wilayah mereka.''Namun negara-negara Arab masih terus ingin melihat langkah nyata Israel sebelum bersikap lebih jauh,'' katanya.

Sikap negara-negara Arab, akan sangat bergantung pada sikap yang ditunjukkan oleh Israel sendiri.''Jika Israel memenuhi tuntutan internasional, negara-negara Arab secara bertahap bisa menormalisasi hubungan mereka dengan Israel,'' kata Gheit.

Gheit juga menolak tuntutan Israel agar Palestina mengakui Israel sebagai negara Yahudi. Ia menegaskan, pengakuan tersebut akan membahayakan warga Israel-Arab. Terutama jika Israel memiliki seorang menteri luar negeri yang memaksa warga Arab keluar Israel.

Mereka kemudian dibuang ke Palestina atau wilayah lainnya yang ada di luar Israel. ''Bisa saja nanti pada suatu hari Israel berkata bahwa jumlah warga Arab di Israel meningkat dan kami harus menguranginya untuk mempertahankan karakter Yahudi Israel,'' kata Gheit. - ap/fer/ahi
More Detail...

More Detail...

KOMPAS.com

الجزيرة نت

Eramuslim: Dunia Islam

  ©Template by Tg. Priok .

Wassalam . . .