Pendidikan Dengan Basis Kemandirian
salah satu kemampuan yang membuat sebuah bansa hidup dengan ekonomi yang baik adalah kemampuan berwira usaha. hal inilah yang menjadikan bangsa Jepang, Korea, Cina dan berbagai dan berbagai bangsa di Eropa akhirnya menjadi pengendali ekonomi dunia. sayangnya, sebagai arisan dari kebijaksanaan diera kolonial, di indonesia mesyarakat lebih dipersiapkan untuk menjadi buruh atau karyawan daripada untuk menjadi pengusaha. Hingga akhirnya nasib bangsa ini secara ekonomi lebih ditentukan oleh bangsa lain.
hal ini nampak pada bimbingan Rasulullah SAW terhadap seorang pemuda yang meminta - minta. Rasulullah SAW bertanya kepadanya apakah engkau memiliki sesuatu yang bisa dijual. pemuda tersebut kemudian menunjukkan barang miliknya kepada Rasulullah SAW, yaitu dua buah mangkok. Rasulullah SAW kemudian melelang kedua mangkok tersebut kepada para sahabatnya.
setelaah mangkok tersebut laku, Rasulullah SAW membagi uang tersebut menjadi dua bagian. satu bagian digunakan untuk biaya kehidupan sehari pemuda tersebut. sedangkan bagian yang lain dibelikan kapak dan beliau berikan pemuda tersebut. beliau memerintahkan kepada pemuda tersebut agar mencari kayu dan menjualnya kepasar serta menemui beliau beberapa hari kemudian. beberapa hari kemudian, sesuai dengn perintah Rasulullah SAW, pemuda tersebut menemui beliau. Namun keadaannya jauh berbeda dengan waktu sebelumnya. pemuda tersebut sudah hidup lebih layak tanpa perlu lagi meminta bantuan orang lain.
saat ini para siswa kita lebih banyak yang merasa cukup untuk menjadi karyawan,buruh atau PNS. mereka hanya berambisi untuk hidup dalam jaminan negara dengan menjadi PNS atau hidup dalam jaminan juragan dengan mejadi karyawan atau buruh. higga akhirnya mereka takut untuk menjadi wirausahawan yang mandiri.
kondisi inilah yang menjadikan para pengusa Cina menguasai bebagai sektor ekonomi nasional. hal ini karena etnis ini tidak di didik oleh lingkungan yang menghormati profesi pengusah. mereka sama sekali tidak tertarik untuk menjadi PNS atau karyawan perusahaan. mereka tumbuh dalam iklim lingkungan yang siapa bersaing. sementara anak negeri sudah cukup berbangga dengan karyawan atau buruh mreka. sedangkan diluar negeri, anak negeri ini berebut untuk sekedar menjadi ibu rumah tangga atu menjadi kuli kasar. bahkan mereka menerima hal itu dengan penuh kebanggaan. padahal martabat mereka dilecehkan dan seringkali mereka tanpa perlindungan yang memai. Hingga akhirnya bahasa Indonesia dikenal sebagai bangsa kuli atau bangsa buruh.







Posting Komentar